I. Pendahuluan
Fazlur Rahman adalah salah satu intelektual muslim era abad
XX, yang mempunyai semangat revolusioner besar dalam
pembaharuan moralitas dan religiusitas keagamaan dan sistem
pendidikan Islam. Sumbangsi intelektualitasnya yang fenomenal dan monumental
menempatkan dirinya sebagai satu dari intelektual Muslim yang mempunyai
pengaruh besar bagi pemikiran pembaharuan dalam dunia islam bahkan dunia
pendidikan. Maka tidak heran hingga saat ini karya-karyanya masih menjadi
rujukan dan bacaan yang sangat sayang jika dilewatkan. Semangat yang tak kenal
waktu dan situasi inilah yang sudah semestinya kita adopsi untuk di
realisasikan dalam kehidupan kita saat ini.
Selanjutnya akan dibahas lebih jauh tentang corak pandang
pemikiran Falzur Rahman serta sumbangsi-sumbangsi konkritnya dalam dunia Islam
umumnya, dan khusunya dalam dunia pendidikan Islam itu sendiri.
Dalam dunia pendidikan Islam, Rahman juga memainkan perannya
karena ikut berpartisipasi dengan menyumbangsikan gagasan pembaharuannya dalam
sitem pendidikan Islam yang mungkin akhir-kahir ini sedikit banyak mengalami
kemerosotan.
Demokratisasi dalam pendidikan adalah salah satu gagasan
revolusionernya dalam dunia pendidikan Islam, dengan menghargai potensi yang
dibawah oleh peserta didik. Dalam penerapannya diharapakan peserta didik mampu
mengembangakan kreatifitas mereka dalam pendidikan ke arah yang positif dalam
pengembangan kognitif, afektif dan psikomotiriknya.
Lebih jauh lagi Rahman berpendapat bahwa manusia itu harus
terus-menerus melakukan perjuangan yang tak henti-hentinya dalam mengembangkan
hidup,kreativitas, kekuasaan, keadilan, hal itu dilakukan agar manusia
tetap survive dan makmur. (Assegaf, 2013: 225)
II. Pembahasan
A. Riwayat Hidup (
Biografi ) Fazlur Rahman
Fazlur
Rahman lahir pada tanggal 21 September
1919 yang letaknya di Hazara sebelum terpecahnya India, kini merupakan bagian
dari Pakistan. [1] Fazlur Rahman di besarkan
dalam madzhab Hanafi. Madzhab Hanafi merupakan madzhab yang didasari al-Qur’an
dan Sunnah, akan tetapi cara berfikirnya lebih rasional. Dengan demikian tidak
dapat di pungkiri Fazlur Rahman juga rasional di dalam berfikirnya, meskipun ia
mendasarkan pemikirannya pada al-Qur’an dan as-sunnah.
Fazlur Rahman dilahirkan dari keluarga miskin yang taat pada agama. Fazlur Rahman beruntung memiliki seorang ayah yang
betul-betul memperhatikannya dalam hal mengaji dan menghafal al-Qur’an,
sehingga dalam usia 10 tahun, Rahman telah hafal al-Qur’an seluruhnya.[2]Selanjutnya
pada usia 14 tahun, ia sudah mulai belajar filsafat, bahasa Arab, teologi,
hadis dan tafsir. Apalagi setelah beliau menguasai beberapa bahasa asing,
seperti bahasa Persia, Urdu, Inggris, Perancis, Jerman, Latin dan Yunani,
semakin memperteguh kualitas intelek-tualitasnya.[3]
walaupun ia di besarkan dalam keluarga yang mempunyai
pemikiran tradisional akan tetapi ia tidak seperti pemikir tradisional yang
menolak pemikiran modern, bahkan Ayahnya berkeyakinan bahwa islam harus
memandang modernitas sebagai tantangan dan kesempurnaan.
Ayahnya
Maulana Shihabudin adalah alumni dari sekolah menengah terkemuka di India,
Darul Ulum Deoband . Meskipun Fazlur Rahman tidak belajar di Daril Ulum,
ia menguasai kurikulum Dares Nijami yang di tawarkan di lembaga tersebut dalam
kajian privat dengan Ayahnya, ini melengkapi latar belakangnya dalam memahami
islam tradisional dengan perhatian khusus pada fikih, Ilmu kalam, Hadits,
ssTafsir, Mantiq, dan Filsafat. Setelah mempelajari ilmu-ilmu dasar ini, ia
melanjutkan ke Punjab University di Lahore dimana ia lulus dengan penghargaan
untuk bahasa Arabnya dan di sana juga ia mendapatkan gelar MA-nya. Pada tahun
1946 ia pergi ke Oxford dengan mempersiapkan disertasi dengan Psikologi Ibnu
Sina di bawah pengawasan professor Simon Van Den Berg. Disertasi itu merupakan
terjemah kritikan dan kritikan pada bagian dari kitab An-Najt, milik filosof
muslim kenamaan abad ke-7, setelah di Oxford ia mengajar bahasa Persia dan
Filsafat Islam di Durham University Kanada dari tahun 1950-1958. ia
meninggalkan Inggris untuk menjadi Associate Professor pada kajian Islam di
Institute Of Islamic Studies Mc. Gill University Kanada di Montreal. Dimana dia
menjabat sebagai Associate Professor Of Philosophy.
Pada
awal tahun 60 an Fazlur Rahman kembali ke Pakistan. Pada bulan Agustus 1946 Fazlur Rahman
di tunjuk sebagai Direktur Riset Islam, setelah sebelumnya menjabat sebagai
staf lembaga tersebut. Selain menjabat sebagai Direktur Lembaga Riset Islam,
pada tahun 1964 ia di tunjuk sebagai anggota dewan penasehat Ideologi
Pemerintah Pakistan. Namun usaha Fazlur Rahman sebagai seorang pemikir modern
di tentang keras oleh para ulama tradisional-findamentalis. Puncak dari segala
kontroversialnya memuncak ketika 2 bab karya momumentalnya, Islam ( 1966 ) di
tentang keras karena pernyataan Fazlur Rahman dalam buku
tesebut “ Bahwa Al-Qur’an itu secara keseluruhan adalah kalam Allah dan dalam
pengertian biasa juga seluruhnya merupakan perkataan Muhammad “ sehingga Fazlur Rahman
di anggap orang yang memungkiri Al-Qur’an kemudian pada 5 September 1986 ia
mengundurkan diri dari jabatan Direktur lembaga Riset Islam yang langsung di
kabulkan oleh Ayyub Khan.
Tidak
kurang dari 18 tahun lamanya Fazlur Rahman menetap di Chicago dan mengkomunikasikan
gagasan-gagasannya baik lewat lisan maupun tulisan sampai akhir tahun
memanggilnya pulang pada tahun 26 juli 1988 jauh sebelum ia sudah terkena
penyakit diabetes yang kronis dan serangan jantung sehingga ia harus di
operasi. Operasi ini berhasil se tidak-tidaknya untuk beberapa minggu hingga
ajal menjemputnya. Kepergian beliau merupakan suatu kehilangan bagi dunia
Intelektual Islam.
B. Karya-karya Fazlur Rahman
a. am Is l996.
b. Islamic Methodology in History 1965.
c. Prophecy in Islam.
d. Major Themes of The Qur’an ( 1980 ).
e. The Philosophy of Mulasadra.
f. Islam and Modernity Transformative
of on Intelektual Tradition ( 1982 ).
Artikel Fazlur Rahman :
- Some
Islamic Issues In the Ayyub Khan Era.
- Islamic
Challenges and Opportunist.
- Forwards
Reformulating The Methodology of Islamic Law : Syaikh Yamani on Public
Interest in Islamic Low.
- Islam
Legacy and Contemporary Challenges
- Islam
in The Contemporary World
- Root
of Islamic Neo Fundamentalism.
- Change
and The Muslim World.
- The
Impact of Modernity on Islam.
- Islamic
Modernism It’s Scope, Method and Alternative.
- Divines
Revelation and The Prophet.
- Interpreting
the Qur’an.
- The
Qur’anic Concept of God, the Universe and Man.
- Some
Key Ethical Concept of the Qur’an.
C. Pemikiran Fazlur
Rahman
Fazlur Rahman dengan segala kemampuan
intelektualnya sudah tentu tidak bebas dari kekurangan dan kelemahan. Maka
adalah hak kita untuk menerima, menyetujui atau menolak seluruh atau sebagian
hasil pemikirannya untuk semua pada posisi penerimaan atau penolakan, seorang intelektual
pencari kebenaran sudah tentu akan mengumpulkan berbagai informasi yang
berkaitan dengan pendapat dan pemikiran yang di kemukakan untuk menilai
pendapat Fazlur
Rahman, orang harus memahami al-Qur’an sebagai sebuah ajaran yang utuh
lebih dulu, di samping Sunnah, Sejarah Islam dan lain-lain. (Nasuha,2013:
:http://nasuhasmith13.blogspot.com)
Di antara pemikiran Fazlur Rahman antara lain :
a.
Ia menegaskan bahwa al-Qur’an
bukanlah suatu karya misterius atau karya sulit yang memerlukan manusia
berlatih secara teknis untuk memahami dan menafsirkan perintah-perintahnya, di
sini di jelaskan pula prosedur yang benar untuk memahami al-Qur’an.
b. Seseorang harus mempelajari
al-Qur’an dalam Ordo Histories untuk mengapresiasikan tema-tema dan gagasan-gagasannya.
c.
Seseorang harus mengkajikan dalam
konteks latar belakang social historisnya, hal ini tidak hanya berlaku untuk
ayat-ayatnya secara individual tapi juga untuk al-Qur’an secara keseluruhan.
Tanpa memahami latar belakang mikro dan makronya secara memadai. Menurut Fazlur
Rahman, besar kemungkinan seseorang akan salah tangkap terhadap élan
dan maksud al-Qur’an aktifitas Nabi baik di Mekkah atau di Madinah.
d. Dalam karyanya Islam and Modernity
1982 Fazlur Rahman menekankan, akan mutlak perlunya
mensistematiskan materi ajaran al-Qur’an. Tanpa usaha ini bisa terjadi
penerapan ayat-ayatnya secara individual dan terpisah berbagai situasi akan
menyesatkan. (Nasuha,2013:http//nasuhasmith 13.blogspot.com)
D.
konsep pendidikan dan pendidikan tinggi islam fazlur Rahman
Pendidikan Islam menurut Fazlur Rahman mencakup
dua pengertian besar (Dr.Sutrisno,2006:170 ) . Yaitu :
- Pendidikan
Islam dalam pengertian Praktis, yaitu pendidikan yang dilaksanakan di dalam
Islam, seperti di Pakistan, Mesir, Sudan, Saudi, Iran, Turki, Maroko, Indonesia
dan lain-lain.
- Pendidikan
tinggi Islam yang disebut dengan intelektualisme Islam.
Lebih dari itu, pendidikan Islam menurut Fazlur Rahman dapat
dipahami juga sebagai proses untuk menghasilkan manusia (ilmuan) integratif,
yang padanya terkumpul sifat-sifat seperti kritis, kreatif, dinamis, inovatif,
progresif, adil, jujur, dan sebagainya
a) Tujuan
Pendidikan Islam
Dengan mendasarkan pada al-Qur’an, tujuan pendidikan menurut
Fazlu Rahman adalah untuk mengembangkan manusia sedemikian rupa sehingga semua
pengetahuan yang diperolehnya akan menjadi organ pada keseluruhan pribadi yang
kreatif, yang memungkin manusia untuk memanfaatkan sumber-sumber alam untuk
kebaikan umat manusia dan untuk menciptakan keadilan, kemajuan, dan keteraturan
dunia
Dewasa ini pendidikan Islam sedang dihadapkan dengan
tantangan yang jauh lebih berat dari masa permulaan penyebaran islam. Tantangan
tersebut berupa timbulnya aspirasi dan idealisme umat manusia yang
serba multi interest dan berdimensi nilai ganda dengan tuntutan
hidup yang multi komplek pula .Ditambah lagi dengan beban psikologis
umat islam dalam menghadapi barat. Dalam kondisi kepanikan spiritual
itu,strategi pendidikan Islam yang dikembangkan diseluruh dunia Islam secara
universal bersifat mekanis. Akibatnya munculah golongan yang menolak segala apa
yang berbau Barat,bahkan adapula yang mengharamkan pengambil alihan ilmu dan
teknologinya.Sehingga apabila kondisi ini terus berlanjut akan dapat
menyebabkan kemunduran umat Islam.]
Menurut Rahman, ada beberapa hal yang harus dilakukan Pertama,
tujuan pendidikanIslam yang bersifat desentif dan cenderung berorientasi hanya
kepada kehidupan akhirat tersebut harus segera diubah.Tujuan pendidikan islam
harus berorientasi kepada klehidupan dunia dan akhirat sekaligus serta
bersumber pada AL-Qur’an.
Kedua,
beban psikologis umat Islam dalam menghadapi Barat harus segera
dihilangkan.Untuk menghilangkan beban psikologis umat Islam tersebut,Rahman
menganjurkan supaya dilakukan kajian Islam yang menyeluruh secara historis dan
sistimatis mengenai perkembangan disiplin-disiplin ilmu Islam seperti
teologi,hukum,etika,hadis ilmu-ilmu sosial,dan filsafat,dengan berpegang kepada
AL-Qur’an sebagai penilai.
Ketiga,
sikap negatif umat Islam terhadap
ilmu pengetahuan juga harus dirubah. Sebab
menurut Rahman, ilmu pengetahuan tidak ada
yang salah, yang salah adalah penggunanya.
b) Sistem Pendidikan
Islam
Fazlur Rahman berpendapat, bahwa “kita tidak bisa
lepas dari system pendidikan Barat karena umat Islam juga ingin belajar dengan
dunia Barat, tetapi system pendidikan Barat telah mendehumanisme dan membekukan
jiwa manusia” Dari sini dapat kita asumsikan bahwa Rahman mencoba
mengintegrasikan antara ilmu sekuler (modern) dan ilmu-ilmu agama. Namun yang
saat ini menjadi pombardir penghalangnya adalah karena sering terjadinya
dikotomi dalam dunia pendidikan Islam.
Dari penjelasan di atas dapat di tarik kesimpulan, menurut
Rahman dunia pendidikan Islam harus memberi ruang bagi ilmu-ilmu sekuler
(modern), atau dalam arti kata luas harus adanya integrasi antara ilmu-ilmu
agama dan ilmu-ilmu sekuler/sains. Dengan pola integrasi ini maka tidak akan
lagi terjadi dikotomi dalam dunia pendidikan Islam. Jadi, hendaknya dalam
silabus-silabus pembelajaran harus dicantumkan ilmu-ilmu di luar agama, seperti
sosiologi, antropologi, biologi dan sebagainya.
Zaman selalu mengalami perkembangan, sudah semestinya
pendidikan Islam harus merespons dan dituntut pula untuk berkembang secara
dinamis dalam mewujudkan manusia yang kritis dan kreatif sehingga mampu mandiri
dalam menyesuaikan diri dalam lingkungan sekitar. Oleh karena itu perlunya di
terapkan konsep pendidikan demokratis yang selalu membuka ruang kebebasan dan
perubahan yang bersifat positif dan dinamis di berbagai lembaga pendidikan agar
dapat memenuhi tuntutan tersebut di atas.
c) Anak
Didik (Peserta Didik)
Dalam proses trasnpormasi ilmu pengetahuan dalam
pendidikan, peserta didik menjadi obyek dari pendidikan itu sendiri,
namun bukan karena dia menjadi obyek maka tidak diberikan kebebasan dalam
mengakpresikan dan mengembangkan kreativitas mereka, akan tetapi dengan
mengsinergikan antara peserta didik dan tujuan pendidikan, maka
peserta didik harus diberikan keluasan ruang dan waktu untuk mengeksplorasikan
semua imajinasi kreatif mereka untuk pengembangan pribadi mereka.
Kemerdekaan (kebebasan) adalah hak dasar bagi setiap manusia
yang ada di dunia ini. Dengan kebebasan manusia dapat keratif dan dapat
mengetahui tujuan yang di anggapnya baik. Namun, dal mengimplementasikan
kemerdekaan tentunya tidak melanggar kebebasan orang lain.
d)
Pendidik (Mu’allim)
Era kontemporer ini dirasakan sangat
minimnya pendidik, namun bukan tenaga pendidiknya yang kurang, lebih
dari itu problema yang kita hadapi sekarang minimnya guru yang professional dan
mempunyai klasifikasi kemampuan yang memadai. Dalam mengatasi kelangkaan
tenaga pendidik seperti itu, Rahman menawarkan beberapa gagasan, yaitu :
- Merekrut
dan mempersiapkan anak didik yang memiliki bakat-bakat terbaik dan mempunyai
komitmen yang tinggi terhadap lapangan agama (Islam). Anak didik seperti ini
harus dibina dan diberikan insentif yang memadai untuk
membantu memnuhi keperluannya dalam peningkatan karir intelektual mereka.
- Mengangkat
lulusan madrasah yang relatif cerdas atau menunjuk sarjana-sarjana modern yang
telah memperoleh gelar doktor di universitas-universitas Barat dan telah berada
di lembaga-lembaga keilmuan tinggi sebagai guru besar-guru besar bidang studi
bahasa Arab, bahasa Persi, dan sejarah Islam.
- Mengangkat
beberapa lulusan madrasah yang memiliki pengetahuan bahasa Inggris dan mencoba
melatih mereka dalam teknik riset modern dan sebaliknya menarik para lulusan
universitas bidang filsafat dan ilmu-ilmu sosial dan memberi mereka pelajaran
bahasa Arab dan disiplin-disiplin Islam klasik seperti Hadis, dan yurisprudensi
Islam.
- Menggiatkan
para pendidik untuk melahirkan karya-karya keislaman secara kreatif dan
memiliki tujuan. Di samping menlulis karya-karya tentang sejarah, filsafat,
seni, juga harus mengkonsentrasikannya kembali kepada pemikiran Islam
III.
Penutup
Fazlur Rahman merupakan salah satu
intelektual muslim yang hidup pada era abad 20an, dia berkebangsaan asli
Palestina dan lahir disana, namun karena ada beberapa permasalahan internal
dengan ulam-ulama tradisional di Pelestina ia pergi ke Amerika Serikat dan
menjadi guru besar di Chicago.
Awal penjajakan intelektualitasya,
di mulai dengan menyelesaikan S1 dan S2 dalam bidang bahasa Arab pada
Universitas Punjab, dan kemudian dilanjutkan dengan menyelesaikan program S3
nya di Oxford University, Inggris dalam bidang fislafat. Setelah itu
ia terus mengembangkan disiplin ilmu pengetahuannya dan menjadi dosen di beberapa
perguruan tinggi di Kanada dan Inggris serta mengisi tulisan-tulisan dalam
jurnal-jurnal ilmiah dan juga mengisi di beberapa seminar-seminar yang di
adakan di beberapa negara.
Puncak dari perkembangan
intelektualitasnya adalah ketika ia hijrah dan menetap di Chicago, dia menjadi
dosen tetap disanana, dan dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Chicago
dalam bidang Pemikiran Islam. Disini ia mendapat kebebasan untuk
mengeksplorasikan semua imajinasi kreatifnya. Disinilah ia mulai menulis
karya-karya fenomenalnya di beberapa jurnal dan buku yang hingga saat ini masih
tersebar luas di seluruh tokoh buka yang ada di dunia ini.
Menurutnya dalam dunia Islam sendiri
terdapat banyak hal yang hingga saat ini masih perluh adanya
rekontruksi dan pembaharuan , misalnya dalam bidang pendidikan, Moral dan
religiusitas keagamaan, pola pengembangan ilmu pengetahuan, sosial
bermasyarakat, dan intraksi dengan dunia Barat.
Dalam dunia pendidikan Islam sendiri
masih banyak yang perluh di rekontruksi dan perbaikan, karena fenaomena saat
ini, menunjukkann pada siklus dimana umat Muslim mengalami kemerosotan dan
ketertinggalan dari dunia Barat. Tentunya dunia pendidikan memainkan
peran yang sangat vital dalam pembentukan dan memprodact generasi-genarasi
muslim yang mempunyai intelektualitas yang tinggi, dan mampu memberikan
arah-arah baru bagi umat Islam untuk kembali kepada dunia keemasan Islam masa
silam
DAFTAR
PUSTAKA
·
Assegaf, Abd. Rachman,2013, Aliran
Pemikiran Pendidikan Islam, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
·
Ali
Safyan, Skripsi Kritik Fazlur Rahman Terhadap Uzlah, Semarang, Fakulatas
Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang,2001
·
Alparslan,Acikgence “The
Thingkerof Islamic Revivaland Reform : Fazlur Rahman’s Life and Thought (1919-1988)”
dalam Journal of Islamic Research, Vol. 4, 1990.
·
Fatah
Rosihan Affandi, Skripsi Study Analisis Fazlur Rahman Tentang Manusia,
Semarang, Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang, 2002
·
Fathoni,
Muhammad Kholid, Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasioanal, Jakarta :
Departemen Agama RI, 2005
·
. (Nasuha,2013.pemikiran fazlur
rahman tentang pendidikan. :http://nasuhasmith13.blogspot.com/2013/11/pemikiran-fazlur-rahman-tentang.html diakses 17
November 2013
·
Rivay
Siregar, Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo Sufisme, Jakarta, PT. Raja
Grafindo Persada, 1999
·
Sutrisno, Fazlur Rahman : Kajian
Terhadap Metode, Epistemologi dan Sistem Pendidikan, Yogyakarta : Pustaka
Pelajar, 2006Muhaimin, dkk, Kontroversi Pemikiran Fazlur Rahman : Studi Kritis Pembaharuan Pendidikan Islam Cirebon: Dinamika, 1999.
[1]Acikgence
Alparslan, “The Thingkerof Islamic Revivaland Reform : Fazlur Rahman’s Life
and Thought (1919-1988)” dalam Journal of Islamic Research, Vol. 4,
1990, hlm. 233. Lihat Taufik Adnan Amal (Peny.), Metode dan Altematif
Neo-Modernisme Islam Fazlur Rahman, (Bandung: Mizan, 1993), hlm. 13.
[2]Lihat Fazlur Rahman, Islam, (Chicago & London:
university of Chicago Press; Scond Edition, 1979), hlm. 35. Lihat Abd. A’la, Dari
Neomodernisme ke Islam Liberal: Jejak Fazlur Rahman dalam wacana Islam
Indonesia, (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 2003), hlm. 33
[3]Nurcholish Madjid, “Fazlur Rahman dan Rekonstruksi Etika
Al-Qur’an”, dalam Islamika, No. 2, Oktober-Desember, 1993, hlm. 23-24.